RSS

Minyak Sawit, Dari Biodiesel hingga Karoten

20 Des
PROFESOR Rudiger Krause dari Jerman berdecak kagum mengamati jajaran tanaman kelapa sawit yang mendominasi pemandangan selama perjalanan field trip ke PT Perkebunan Nusantara IV, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Perjalanan ini adalah akhir dari “International Biodiesel Workshop” yang diselenggarakan Departeman Pertanian.
“Negara Anda beruntung memiliki lahan dan sumber alam seperti ini,” katanya. Tanaman sawit yang dikagumi Krause itu dulunya hanya berupa empat tunas kelapa sawit. Tunas itu didatangkan dari Afrika pada tahun 1848 oleh VOC, dan semula ditanam di daerah yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.
Kini keempat pohon sawit itu telah menjelma menjadi jutaan batang kelapa sawit yang ditanam rapi, dan tersebar di berbagai wilayah Nusantara, termasuk di perkebunan milik PTPN IV. Hingga penghujung tahun 2000, luas total perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 3,2 juta hektar.
Kekaguman Krause memang bukan sekadar basa-basi. Sebagai peneliti biodiesel, ia tahu betul potensi terpendam dalam tiap batang kelapa sawit yang dilihatnya. Minyak kelapa sawit dapat diolah menjadi bahan bakar diesel yang bersifat ramah lingkungan. Hal ini telah dibuktikan oleh para peneliti Indonesia di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), dan juga di Malaysia yang dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia saat ini.
Produksi minyak kelapa sawit Indonesia saat ini mencapai 6,5 juta ton per tahun, dan diperkirakan pada tahun 2012 akan meningkat hingga 15 juta ton per tahun karena pengembangan lahan. Namun, harga minyak kelapa sawit seringkali jatuh karena membanjirnya produk di pasar internasional. Sejak pertengahan tahun 1999, harga minyak kelapa sawit mencapai harga terendah selama sepuluh tahun terakhir.
Minyak kelapa sawit juga dapat diolah menjadi berbagai produk hilir seperti oleokimia, yang mempunyai nilai jual tinggi. Tetapi, industri oleokimia Indonesia ternyata kurang berkembang, terutama bila dibandingkan dengan Malaysia. Hal ini disebabkan karena mahalnya biaya investasi dan terbatasnya pasar dunia untuk produksi oleokimia.
TANAMAN kelapa sawit berbeda dengan tanaman semusim, seperti kedele atau rapeseed, yang dapat diatur produksinya. Hal ini memungkinkan minyak kelapa sawit mengalami surplus produksi sehingga perlu dicari cara pemanfaatannya. Salah satu alternatif yang terbentang di depan mata adalah mengolah minyak kelapa sawit menjadi biodiesel.
Peneliti dari dalam negeri telah menemukan cara untuk mengantisipasi surplus produksi minyak kelapa sawit. Penemuan itu dilandasi rasa khawatir akan keterbatasan sumber bahan bakar fosil, terutama solar, serta dampak buruk akibat pemakaiannnya. Indonesia tercatat sebagai negara pengimpor solar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan menduduki urutan ketiga di dunia dalam hal polusi udara karena pemakaian bahan bakar fosil.
Dr Darnoko dari PPKS mengungkapkan, hanya dengan proses sederhana maka minyak sawit dapat diubah menjadi biodiesel. Bahan baku yang digunakan selain minyak sawit adalah methanol. Dengan dibantu katalis basa dan pengaturan suhu hingga 60 derajat Celcius, reaksi transesterifikasi antara kedua bahan akan membentuk methyl ester dengan produk samping berupa gliserol. Methyl ester inilah yang disebut sebagai biodiesel, dan memiliki kemiripan sifat dengan minyak solar dari perut bumi.
Pada proses pembuatannya, gliserol akan terpisah di bagian bawah reaktor sehingga dengan mudah dapat dipisahkan. Biodiesel yang terbentuk, selanjutnya dicuci dengan air untuk menghilangkan sisa katalis dan metanol.
Pembuatan biodiesel tidak memerlukan peralatan canggih, hanya reaktor kimia tempat berlangsungnya reaksi, dan separator untuk memisahkan biodiesel dengan gliserol. Produksi biodiesel dari minyak nabati dapat dilakukan pada skala kecil dan besar secara curah (batch) atau sinambung (continuous).
Uji coba penggunaan biodiesel pada motor diesel telah pula ditampilkan dalam satu sesi International Biodiesel Workshop di Medan. Beberapa kendaraan minibus yang memakai bahan bakar campuran antara solar dengan biodiesel, tampak bergerak mulus tanpa ada gangguan mesin.
MENURUT Darnoko, persentase perbandingan antara biodiesel dengan solar yang digunakan untuk menggerakkan kendaraan tadi adalah dua berbanding delapan. Perbandingan seperti ini telah diterapkan pada kendaraan umum di Eropa dan Jepang. “Penambahan biodiesel yang lebih tinggi dari persentase ini dikhawatirkan dapat merusak komponen mesin berbahan polimer, seperti, pipa karet atau plastik. Tetapi, sifat korosif tersebut bisa diatasi dengan mengganti spare part yang terbuat dari plastik dan karet dengan bahan-bahan sintetis lainnya,” jelas Darnoko.
Hasil penelitian Dr Evita Legowo, Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kelistrikan dan Energi (Research and Development Center for Energy and Electricity Technology) menunjukkan, perbandingan terbaik untuk campuran solar dengan biodiesel adalah 70 berbanding 30 dalam satuan volume dengan memakai mesin diesel empat tak 2000 CC. Hasil uji yang diperoleh adalah torsi mesin pada putaran berbeda akan turun bila kandungan biodiesel lebih banyak dalam campurannya dengan solar.
Untuk bahan bakar solar, torsi (tenaga putaran) maksimum yang dapat dicapai adalah 117 Nm pada putaran 2.500 rpm (putaran per menit). Untuk campuran solar-biodiesel, perbandingan 70 dan 30 dalam satuan volume menunjukkan torsi 114 Nm. Sedangkan untuk biodiesel murni adalah 110 Nm, masing-masing pada kecepatan 2000 rpm.
Dari hasil penelitian yang sama, beban mesin maksimum untuk solar, campuran, dan biodiesel murni adalah 38,3, 37,5, dan 35,2 kW pada 4.000 rpm. Kekuatan mesin turun delapan persen pada pemakaian biodiesel murni, dan turun dua persen untuk campuran solar-biodiesel.
Konsumsi bahan bakar semakin meningkat dengan ditingkatkannya kadar biodiesel dalam bahan bakar solar. Pemakaian biodiesel murni menyebabkan konsumsi bahan bakar meningkat 24 persen, sedangkan campurannya dengan solar menyebabkan peningkatan konsumsi sebesar 11 persen.
Pemakaian biodiesel menyebabkan kadar kekotoran pada injector nozzle sebesar 3,2 persen, endapan pada piston meningkat 4,2 persen, endapan pada pompa meningkat 0.85 persen, kekotoran cylinder head 30,8 persen, dan endapan pada filter meningkat 57,6 persen. Menurut Evita, pemakaian biodiesel tidak berpengaruh apa pun terhadap minyak pelumas.
Darnoko menambahkan, sifat biodiesel lainnya yang perlu diperhatikan adalah kekentalan (viskositas). Biodiesel yang terlalu kental menyebabkannya sulit diinjeksi ke ruang pembakaran. Tetapi, kesulitan seperti dapat ditanggulangi dengan mencampur biodiesel dengan solar, atau dengan penambahan zat aditif viscosity breakers dengan batasan antara 100-300 ppm.
SEKALI merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Perumpamaan ini seolah menjadi bermakna dengan proses terpadu produksi biodiesel dari minyak sawit.
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 20, 2007 in kimia

 

8 responses to “Minyak Sawit, Dari Biodiesel hingga Karoten

  1. yuli

    September 1, 2008 at 1:15 am

    Sangat menarik tetapi permaslahan ini bersaing dengan kebutuhan pangan yakni minyak goreng selain itu biaya produksi sangat besar sangat tidak ekonomis. Menrut saya perlu dicari bahan baku lain dan teknik pengolahan yang sederhana.

     
  2. adhi

    Desember 12, 2008 at 2:31 pm

    dengan kondisi saat ini dimana harga TBS anjlok dan banyak petani merugi, sebaiknya over supply TBS ini diolah menjadi biodiesel, shg petani tdk merugi dan bangkrut. Selain untuk biodiesel, juga untuk memenuhi kebutuhan CPO domestik sbg bahan dasar produk turunan CPO.

     
  3. nita

    Januari 27, 2009 at 2:04 pm

    untuk memudahkan sebaiknya dilakukan publikasi cara-cara produksi biodiesel dari cpo dalam skala rumah tangga.
    mungkin dalam sebuah buku yang dijual bebas.
    suatu ide harus diteruskan dalam sebuah tindakan nyata.

     
    • madja

      Januari 28, 2009 at 2:37 am

      memang mudah dan simpel.
      mengenai buku mungkin banyak beredar terbitan2 biodiesel.
      so guy,s kunjungi smk3ae.wordpress.com
      e…sekolah yang siswanya mendapat pembelajarannya,
      so thanks 4 all

       
  4. dgoes

    Maret 13, 2009 at 3:29 am

    mantafff,……
    tapi masalah efisiensi pada mesin kendaraan udah ada solusinya belum ya..?
    kalo efisiensi bisa dinaikkan biar mesin gak tambah boros bahan bakar akan makin mantaf…

     
    • madja

      Maret 16, 2009 at 6:55 am

      salam,
      mungkin sudah banyak teknologi2 ramah lingkungan
      yg diciptakan tangan-tangan Indonesia..
      banyak sekarang mobil2 dengan menggunakan sumber tenaga yg ramah lingkungan dan super irit,
      tenaga surya, bio ethanol, dsb…dan tidak mengurangi kualitas si mesin

       
  5. antok

    Maret 16, 2009 at 3:51 pm

    di tempat riset kami minyak sawit dapat jadi bahan bakar non fosil tanpa proses rumit
    pemotongan ikatan kimia. dan tidak merusak mesin diesel sudah 1thn kami uji coba sampai hari ini tak ada masalah

     
    • madja

      Maret 18, 2009 at 2:20 am

      wah…keren tuh mas,
      noleh dunk minta penjelasannya buat sharing ke yang lain.
      bagi-bagi ilmu lah…
      di tunggu yach…
      jo lali kon..

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: